JARING SIMANIS (Penjaringan Pasien Hipertensi dan Kencing Manis)
Ringkasan Inovasi
JARING SI MANIS merupakan inovasi pelayanan kesehatan UPTD Puskesmas Sukabumi yang berfokus pada penjaringan aktif, pemantauan berkelanjutan, edukasi, serta pendampingan pasien hipertensi dan diabetes melitus melalui sinergi antara Puskesmas, Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), kader kesehatan, keluarga, dan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).Penyakit Tidak Menular (PTM) saat ini menjadi tantangan utama sistem kesehatan dunia maupun Indonesia.
Latar Belakang
JARING SI MANIS merupakan inovasi pelayanan kesehatan UPTD Puskesmas Sukabumi yang berfokus pada penjaringan aktif, pemantauan berkelanjutan, edukasi, serta pendampingan pasien hipertensi dan diabetes melitus melalui sinergi antara Puskesmas, Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), kader kesehatan, keluarga, dan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).
Pelaksanaan inovasi JARING SI MANIS merupakan implementasi kebijakan nasional dalam upaya penguatan pelayanan kesehatan primer dan pengendalian penyakit tidak menular.
Landasan hukum yang mendasari inovasi ini antara lain:
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Permenkes Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas.
Permenkes Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular.
Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis.
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025–2029.
Kebijakan Transformasi Sistem Kesehatan.
Selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, inovasi daerah diarahkan untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Sementara itu, transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan menempatkan skrining, deteksi dini, dan pengendalian penyakit tidak menular sebagai salah satu prioritas nasional.
Analisis lapangan menunjukkan beberapa penyebab utama, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, kepatuhan minum obat yang belum optimal, kurangnya pemahaman mengenai pola hidup sehat, serta belum optimalnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mendukung pengendalian penyakit kronis.
Sebelum inovasi JARING SI MANIS diterapkan, pelayanan terhadap penderita hipertensi dan diabetes melitus di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukabumi masih didominasi oleh pendekatan pasif (facility based). Sebagian besar pasien datang ke puskesmas hanya ketika mengalami keluhan atau saat membutuhkan pengobatan rutin. Kegiatan deteksi dini di masyarakat belum berjalan secara optimal, sehingga banyak penderita yang terlambat diketahui status kesehatannya atau tidak melakukan kontrol secara berkala. Selain itu, koordinasi antara Puskesmas, Posyandu, kader kesehatan, dan keluarga pasien masih bersifat sektoral sehingga proses pemantauan belum berkesinambungan.
Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya proporsi pasien yang berhasil mencapai kondisi hipertensi maupun diabetes melitus terkendali. Rendahnya kepatuhan berobat, kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan penyakit kronis, serta belum optimalnya perubahan perilaku hidup sehat menjadi tantangan utama dalam pelayanan penyakit tidak menular.
Kebaruan Inovasi
Melalui inovasi JARING SI MANIS, pendekatan pelayanan diubah dari pelayanan pasif menjadi pelayanan proaktif berbasis komunitas. Puskesmas tidak lagi hanya menunggu pasien datang, tetapi secara aktif melakukan penjaringan sasaran melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), kegiatan Posbindu PTM, kunjungan rumah, skrining faktor risiko, serta pemanfaatan jejaring kader kesehatan di setiap kelurahan.
Inovasi ini juga memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, keluarga pasien, dan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) sehingga proses edukasi, pemantauan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, kepatuhan minum obat, konseling gizi, aktivitas fisik, hingga tindak lanjut rujukan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Penerapan metode tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data internal UPTD Puskesmas Sukabumi, capaian pengendalian hipertensi dan diabetes melitus mengalami peningkatan dibandingkan sebelum inovasi diterapkan, yang turut berkontribusi terhadap penghargaan sebagai FKTP Terbaik Kota Probolinggo.
Dampak & Manfaat
Penerapan inovasi JARING SI MANIS memberikan manfaat sebagai berikut:
Masyarakat memperoleh akses skrining penyakit tidak menular yang lebih mudah dan lebih dekat dengan tempat tinggal.
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengikuti pengobatan, kontrol rutin, dan kegiatan Prolanis.
Mengurangi risiko komplikasi hipertensi dan diabetes melitus melalui deteksi dini dan pengendalian faktor risiko.
Memperkuat sinergi antara Puskesmas, Posyandu ILP, Posbindu PTM, BPJS Kesehatan, kader kesehatan, pemerintah kelurahan, dan keluarga pasien.
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan primer serta mendukung pencapaian indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Berdasarkan implementasi inovasi JARING SI MANIS, diperoleh hasil sebagai berikut:
Jumlah Club Prolanis binaan UPTD Puskesmas Sukabumi meningkat dari 2 club pada tahun 2023 menjadi 7 club pada tahun 2025, dan berkembang menjadi 10 club pada April 2026.
Jumlah peserta hipertensi non-club meningkat dari 76 peserta pada tahun 2023 menjadi 285 peserta pada tahun 2025, serta mencapai 306 peserta pada April 2026.
Jumlah peserta diabetes melitus non-club meningkat dari 92 peserta pada tahun 2023 menjadi 251 peserta pada tahun 2025, dan mencapai 264 peserta pada April 2026.
Capaian pengendalian hipertensi dan diabetes melitus menunjukkan peningkatan dibandingkan sebelum inovasi diterapkan, sejalan dengan penguatan skrining aktif, edukasi, dan pendampingan pasien. Pernyataan ini didukung oleh data internal proposal, namun besaran indikator tahunan selain yang telah disebutkan masih memerlukan data resmi Puskesmas apabila akan ditampilkan dalam bentuk persentase.
Inovasi ini memperkuat jejaring pelayanan kesehatan primer melalui kolaborasi lintas program dan lintas sektor sehingga pelayanan penyakit tidak menular menjadi lebih terintegrasi dan berorientasi pada pencegahan komplikasi.