SEKALI SERBU TB
Ringkasan Inovasi
Inovasi SEKALI SERBU TB (SEminggu seKALI SEdot Rumah Pasien TB dan Bersihkan Udara untuk Memberantas Tuberkulosis dengan UV Bokster) yang dikembangkan oleh UPTD Puskesmas Ketapang, Kota Probolinggo, menghadirkan terobosan dalam percepatan eliminasi TBC. Mengacu pada regulasi nasional seperti UU Kesehatan No. 17/2023 dan Perpres No. 67/2021, program ini mengatasi tingginya risiko penularan kontak serumah yang dapat mencapai 76,6% akibat keterbatasan sirkulasi udara, kelembapan, serta kepadatan hunian. Melalui pergeseran paradigma dari pelayanan pasif di puskesmas (facility-based care) menjadi pelayanan aktif berbasis kunjungan rumah (home-based integrated care), tim kesehatan mendatangi langsung kediaman pasien tanpa membebankan biaya renovasi rumah.
Keunggulan utama dari model pelayanan terpadu ini terletak pada pengintegrasian pengobatan medis, sterilisasi udara berbasis teknologi portabel UV Bokster, serta penyedotan sirkulasi udara dalam satu rangkaian tindakan. Pelaksanaan program berjalan secara terstruktur melalui tujuh tahapan, mulai dari penetapan sasaran via SITB, sterilisasi ruangan, hingga edukasi etika batuk dan gizi bersama kader TB. Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan keluarga dan masyarakat, inovasi ini tidak hanya memutus rantai penularan Mycobacterium tuberculosis di tingkat rumah tangga, tetapi juga mendukung Transformasi Layanan Primer dan target Eliminasi TB 2030 dengan model pelayanan yang efektif, fleksibel, serta mudah direplikasi di daerah lain.
Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular dengan beban kesehatan masyarakat terbesar di dunia. Meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, WHO melaporkan bahwa pada tahun 2025 diperkirakan masih terdapat sekitar 10,8 juta penderita tuberkulosis di dunia dengan lebih dari 1,2 juta kematian, sehingga TB tetap menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa TB bukan hanya masalah klinis, tetapi juga merupakan persoalan pembangunan yang dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, lingkungan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia. WHO memperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TB dengan angka insidensi sekitar 387 kasus per 100.000 penduduk, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia. Meskipun capaian penemuan kasus meningkat setiap tahun, masih terdapat sekitar 140.000 penderita yang belum ditemukan atau belum tercatat dalam sistem pelaporan nasional sehingga berpotensi terus menularkan penyakit di masyarakat.Selain tingginya angka kejadian, tantangan lain adalah keberhasilan pengobatan dan pencegahan penularan di lingkungan keluarga. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa notifikasi kasus TB telah meningkat, namun cakupan inisiasi pengobatan masih berada di bawah target nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi penanggulangan TB tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan di fasilitas kesehatan, tetapi perlu diperkuat melalui intervensi berbasis komunitas dan rumah tangga. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kontak serumah merupakan kelompok dengan risiko tertinggi tertular TB. Ventilasi yang buruk, kepadatan hunian, kelembapan tinggi, minimnya pencahayaan alami, dan buruknya kualitas udara di dalam rumah menjadi faktor yang mempercepat penularan Mycobacterium tuberculosis. Oleh karena itu, pengendalian infeksi berbasis lingkungan (environmental infection control) kini menjadi salah satu strategi penting yang direkomendasikan WHO dalam mendukung eliminasi TB. Sebagai salah satu kota di Provinsi Jawa Timur, Kota Probolinggo masih menghadapi tantangan dalam pengendalian tuberkulosis. Kasus TB masih ditemukan setiap tahun dan sebagian besar pasien menjalani pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. UPTD Puskesmas Ketapang merupakan salah satu puskesmas yang memiliki jumlah pasien TB aktif cukup tinggi sehingga memerlukan pendekatan pelayanan yang lebih intensif.Data pelayanan menunjukkan bahwa pasien TB yang menjalani pengobatan harus mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur selama minimal enam bulan. Meskipun sebagian besar pasien telah mendapatkan pengobatan sesuai standar, risiko penularan kepada anggota keluarga tetap tinggi karena pasien dan keluarganya tinggal bersama dalam satu rumah selama hampir 24 jam setiap hari. Proposal sebelumnya juga mencatat adanya potensi penularan pada anggota keluarga hingga 76,6%, sehingga diperlukan intervensi tambahan di tingkat rumah tangga. Hasil identifikasi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Ketapang menunjukkan beberapa permasalahan utama:
Sebagian rumah pasien TB memiliki ventilasi yang kurang memadai sehingga pertukaran udara tidak berlangsung optimal.
Kepadatan hunian menyebabkan anggota keluarga melakukan kontak erat dengan pasien dalam waktu yang lama.
Keterbatasan ekonomi membuat sebagian besar pasien tidak mampu melakukan renovasi rumah untuk memenuhi standar rumah sehat.
Upaya pengendalian infeksi selama ini masih didominasi penggunaan masker, etika batuk, dan kepatuhan minum obat, sedangkan intervensi terhadap kualitas udara dalam rumah belum dilakukan secara sistematis.
Petugas kesehatan memiliki keterbatasan waktu untuk melakukan pendampingan intensif kepada seluruh pasien apabila hanya mengandalkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Belum tersedia model pelayanan berbasis kunjungan rumah yang mengintegrasikan edukasi, pengendalian infeksi lingkungan, sterilisasi udara, pemantauan kepatuhan pengobatan, dan pemberdayaan kader dalam satu paket layanan.
Apabila kondisi tersebut tidak segera diatasi, maka potensi terjadinya penularan pada anggota keluarga, meningkatnya kasus baru, serta terhambatnya pencapaian target Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2030 akan tetap menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Probolinggo. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu inovasi pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau pasien secara langsung di rumah, memperkuat pengendalian infeksi berbasis lingkungan, meningkatkan keterlibatan keluarga dan kader kesehatan, serta mendukung keberhasilan pengobatan pasien secara berkelanjutan. Atas dasar itulah UPTD Puskesmas Ketapang mengembangkan inovasi SEKALI SERBU TB, yaitu model pelayanan jemput bola yang mengintegrasikan sterilisasi udara menggunakan UV Bokster, penyedotan sirkulasi udara, edukasi keluarga, pemantauan kepatuhan pengobatan, dan pendampingan kader TB dalam satu rangkaian pelayanan berbasis rumah.
Kebaruan Inovasi
4. METODE PEMBAHARUAN
Pengendalian tuberkulosis selama ini lebih banyak berfokus pada aspek pengobatan pasien melalui pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT), pemantauan kepatuhan minum obat, edukasi penggunaan masker, etika batuk, serta investigasi kontak serumah. Pendekatan tersebut terbukti mampu meningkatkan angka kesembuhan pasien, namun belum sepenuhnya mampu mengendalikan risiko penularan yang terjadi di lingkungan rumah, terutama pada anggota keluarga yang tinggal bersama pasien dalam waktu lama. Berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan rumah, seperti ventilasi yang kurang memadai, sirkulasi udara yang buruk, kepadatan hunian, dan tingginya kelembapan ruangan merupakan faktor yang meningkatkan risiko penularan Mycobacterium tuberculosis. Di wilayah perkotaan, termasuk Kota Probolinggo, banyak rumah pasien TB berada pada kawasan permukiman padat sehingga sulit dilakukan renovasi untuk memenuhi standar rumah sehat. Akibatnya, pasien tetap menjalani pengobatan di lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berlangsungnya transmisi penyakit. Melihat kondisi tersebut, UPTD Puskesmas Ketapang mengembangkan inovasi SEKALI SERBU TB, yaitu model pelayanan kesehatan berbasis kunjungan rumah (home-based tuberculosis environmental control) yang mengintegrasikan pengendalian infeksi lingkungan dengan pelayanan kesehatan primer. Pembaruan yang dihadirkan tidak hanya berupa penggunaan teknologi UV Bokster, tetapi juga perubahan cara kerja pelayanan kesehatan dari pasif (facility-based care) menjadi aktif (home-based integrated care).
Perubahan mendasar yang dihasilkan melalui inovasi ini meliputi:
Sebelum Inovasi
Pelayanan lebih banyak menunggu pasien datang ke Puskesmas.
Fokus pelayanan pada pengobatan pasien.
Pengendalian penularan dilakukan melalui penggunaan masker dan etika batuk.
Belum tersedia layanan sterilisasi udara di rumah pasien.
Kunjungan rumah dilakukan secara terbatas sesuai kebutuhan.
Kader berperan terutama sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO).
Lingkungan rumah belum menjadi fokus utama pelayanan TB.
Sesudah inovasi
Perawat dan kader TB secara aktif melakukan pelayanan jemput bola ke rumah pasien.
Pelayanan mencakup pengobatan, edukasi, pengendalian infeksi lingkungan, pemantauan kepatuhan, dan pemberdayaan keluarga.
Pengendalian penularan diperkuat dengan sterilisasi udara, penyedotan sirkulasi udara, edukasi ventilasi rumah, dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Rumah pasien memperoleh layanan sterilisasi udara menggunakan UV Bokster secara berkala.
Kunjungan rumah dilakukan secara terjadwal selama masa pengobatan sehingga pemantauan pasien lebih berkesinambungan.
Kader berperan sebagai mitra pelayanan yang membantu edukasi, pemantauan lingkungan rumah, motivasi pasien, dan tindak lanjut kunjungan.
Lingkungan rumah menjadi bagian integral dari upaya pengendalian infeksi.
Melalui pendekatan tersebut, inovasi SEKALI SERBU TB menghadirkan perubahan paradigma pelayanan tuberkulosis. Jika sebelumnya pelayanan hanya berorientasi pada penyembuhan pasien, kini pelayanan juga diarahkan pada pemutusan rantai penularan di lingkungan rumah, peningkatan kualitas udara dalam ruangan, pemberdayaan keluarga, dan penguatan peran masyarakat dalam pengendalian TB.
Selain itu, inovasi ini memanfaatkan teknologi UV Bokster sebagai media pendukung sterilisasi udara yang bersifat portabel, mudah dioperasikan, hemat energi, dan dapat digunakan pada berbagai tipe rumah tanpa memerlukan renovasi bangunan. Dengan demikian, keterbatasan kondisi fisik rumah tidak lagi menjadi hambatan dalam pelaksanaan pengendalian infeksi berbasis lingkungan.
Pembaruan lainnya adalah penerapan sistem pelayanan yang lebih terintegrasi melalui kolaborasi antara programmer TB, perawat, kader kesehatan, pasien, dan keluarga. Setiap pasien memperoleh jadwal kunjungan, edukasi kesehatan, pemantauan kepatuhan pengobatan, serta evaluasi kondisi lingkungan rumah secara berkala. Model ini menjadikan pelayanan lebih personal, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Melalui metode pembaruan tersebut, SEKALI SERBU TB tidak hanya menghasilkan inovasi berupa alat, tetapi menghadirkan model pelayanan kesehatan primer berbasis rumah yang mengintegrasikan teknologi, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pengendalian faktor risiko lingkungan. Model ini memberikan nilai tambah dibandingkan pendekatan konvensional karena mampu memperkuat upaya promotif, preventif, kuratif, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu siklus pelayanan yang berkesinambungan.
5. KEUNGGULAN DAN KEBAHARUAN
a. Mengintegrasikan pengobatan dengan pengendalian infeksi berbasis lingkungan
b. Mengubah pelayanan pasif menjadi pelayanan jemput bola
c. Mengintegrasikan teknologi sederhana dalam pelayanan primer
d. Memperkuat pemberdayaan keluarga dan kader kesehatan
e. Mewujudkan pelayanan yang lebih komprehensif
f. Mendukung Transformasi Layanan Primer
g. Memiliki potensi replikasi yang tinggi
Nilai Tambah Inovasi
Melalui berbagai pembaruan tersebut, SEKALI SERBU TB menghadirkan nilai tambah berupa:
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer yang lebih proaktif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat;
penguatan pengendalian infeksi di tingkat rumah tangga untuk menurunkan risiko penularan TB;
peningkatan keterlibatan keluarga dan kader kesehatan sebagai bagian dari sistem pelayanan;
dukungan terhadap percepatan target Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2030 melalui model pelayanan yang inovatif, adaptif, dan mudah direplikasi.
Dampak & Manfaat
Penerapan inovasi SEKALI SERBU TB memberikan manfaat sebagai berikut:
Bagi Masyarakat
Masyarakat memperoleh pelayanan TB yang lebih mudah diakses melalui kunjungan rumah.
Risiko penularan TB di lingkungan keluarga dapat ditekan melalui pengendalian infeksi berbasis lingkungan.
Meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan tuberkulosis dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Meningkatnya rasa aman dan kenyamanan keluarga dalam mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Meningkatnya kepatuhan pasien menjalani terapi hingga sembuh.
Bagi Pemerintah Daerah
Mendukung pencapaian indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Mendukung target Eliminasi Tuberkulosis Tahun 2030.
Meningkatkan kualitas pelayanan publik bidang kesehatan.
Menghasilkan model pelayanan yang inovatif dan dapat direplikasi oleh Puskesmas lain.
Memperkuat kolaborasi lintas program dan lintas sektor dalam pengendalian tuberkulosis.
Bagi UPTD Puskesmas Ketapang
Meningkatkan efektivitas pemantauan pasien TB.
Mempermudah identifikasi faktor risiko penularan di lingkungan rumah.
Memperkuat koordinasi antara tenaga kesehatan, kader, pasien, dan keluarga.
Meningkatkan kualitas data monitoring dan evaluasi program TB.
Meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas.